Pagi ini, kabut turun perlahan menutupi halaman. Udara dingin membuat siapa saja enggan beranjak dari tempat tidur. Di tengah suasana yang sunyi, seorang pemuda duduk termenung sambil berkata, “Kabut pagi ini memang tebal, tapi yang lebih tebal ternyata rasa gabutku.”

Ia pun mencoba mencari kegiatan. Menyeduh secangkir kopi, berjalan sebentar, lalu menikmati embun yang masih bergantung di ujung daun. Perlahan ia menyadari bahwa pagi tidak pernah benar-benar membosankan. Kadang, bukan harinya yang gabut, tetapi kitalah yang belum menemukan alasan untuk menikmatinya.

Kabut akhirnya mulai menghilang, matahari pun perlahan menampakkan diri. Ia tersenyum dan berkata, “Ternyata antara kabut dan gabut, yang paling cepat pergi adalah gabut… kalau kita mau bangkit dan memulai hari.”

Selamat pagi. Jangan biarkan kabut menutupi pandangan dan jangan biarkan gabut mengalahkan semangat.